Selasa, 06 Desember 2011

Mutu sekolah di indonesia

KONSTELASI MUTU SEKOLAH DI INDONESIA
Secara umum mutu pendidikan di Indonesia masih rendah dibanding negara-negara lain, adapun gambaran konstelasi mutu sekolah di Indonesia pada tingkat praksis dapat dilihat dari beberapa indikator makro antara lain :

1. laporan The Global Competitiveness Report 2008-2009 dariWorld Economic Forum (dalam Martin, dkk., 2008), yang menempatkan Indonesia pada peringkat 55 dari 134 negara dalam hal pencapaian Competitiveness Index (CI )

2. Hasil penelitian United Nations for Development Programme di dalam Human Development Report 2007/2008 (http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_Human_Development_Index” yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-107 dari 155 negara dalam hal pencapaian Human Development Index ( HDI ). Secara umum dapat dipahami bahwa rendahnya mutu SDM bangsa Indonesia saat ini adalah akibat rendahnya mutu pendidikan

Secara umum juga dapat dipahami bahwa rendahnya mutu sekolah di Indonesia saat ini dapat dilihat juga dari berbagai indikator mikro, antara lain :

1. Dalam hal literasi Matematika dan Sains, hasil studi Trends in
International Mathematics and Science Study (TIMSS) tahun 2007, hasilnya memperlihatkan bahwa peserta didik Indonesia belum menunjukkan prestasi memuaskan. Literasi Matematika peserta didik Indonesia, hanya mampu menempati peringkat 36 dari 49 negara, dengan pencapaian skor 405 dan masih di bawah skor rata-rata internasional yaitu 500. Hasil yang diperoleh ini, lebih buruk dibandingkan dengan pelajar Mesir yang berada pada urutan ke 35 (Martin, dkk., 2008).

2. Rendahnya mutu pendidikan dapat pula dilihat dalam laporan studi Programme for
International Student Assessment (PISA) tahun 2003. Untuk literasi Sains dan Matematika, peserta didik usia 15 tahun berada di ranking ke 38 dari 40 negara peserta, bahkan untuk literasi membaca berada di posisi ke 39 (OECD, 2004). Pada tahun 2006 prestasi literasi membaca siswa Indonesia berada pada peringkat ke 48 dari 56 negara, literasi matematika berada pada peringkat ke 50 dari 57 negara, dan literasi sains berada pada peringkat ke-50 dari 57 negara (OECD, 2007).

3. Selanjutnya hasil studi Progress in International Reading Literacy Study
(PIRLS) tahun 2006 dalam bidang membaca pada anak-anak kelas IV sekolah dasar di seluruh dunia di bawah koordinasi The International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA) yang dikuti 45 negara/negara bagian, baik berasal dari negara maju maupun dari negara berkembang, hasilnya memperlihatkan bahwa peserta didik Indonesia berada pada peringkat ke 41 (OECD, 2006).


DISPARITAS MUTU PENDIDIKAN DI INDONESIA
Dari berbagai hasil survei menunjukkan bahwa kualitas pendidikan di Indonesia
tergolong masih tergolong rendah (Tola, 2008). Beberapa tahun yang lalu, tidak ada satu
pun juga universitas di Indonesia yang masuk kelompok 100 universitas di tingkat dunia
(Tilaar, 2006), baru pada tahun-tahun terakhir ini, data memperlihatkan bahwa ITB, UGM dan UI menempati urutan ke 56, 61, dan 84 dari 100 universitas terbaik di Asia
(http://www.webometrics.info/top100_continent.asp?cont=asia).
Apabila pendidikan tinggi sudah demikian rendahnya apalagi pendidikan dasar dan menengah, tentunya kualitasnya tidak lebih baik.
Fakta lain adalah adanya ketimpangan dalam penyediaan Jasa pendidikan di indonesia

1. Tidak semua anak bersekolah.
Indonesia masih belum memenuhi program wajar 9 tahun bagi semua anak. Saat ini masih terdapat sekitar 20 persen anak usia sekolah menengah yang masih belum bersekolah.
Perbedaan partisipasi antar daerah yang cukup besar. Pada tahun 2002, sebagai contoh, angka partisipasi murni pada jenjang sekolah dasar berkisar antara 83,5 persen di propinsi Gorontalo dan 94,4 persen di Sumatera Utara. Pada jenjang sekolah menengah pertama, angka partisipasi murni berkisar antara 40,9 persen di Nusa Tenggara Timur dan 77,2 persen di Jakarta dan pada jenjang sekolah menengah atas berkisar antara 24,5 persen di Nusa Tenggara Timur dan 58,4 persen di Yogyakarta.

2. Anak dari kelompok miskin keluar dari sekolah lebih dini.
Pada tahun 2002 angka partisipasi sekolah menengah pertama dari kelompok penduduk seperlima terkaya, lebih tinggi 69 persen dibandingkan dengan angka partisipasi dari kelompok seperlima termiskin. Sementara pada jenjang sekolah menengah atas, angka partisipasi murni dari kelompok seperlima terkaya mencapai tiga setengah kali lebih tinggi dibandingkan dengan angka partisipasi murni kelompok termiskin. Walaupun hampir semua anak dari berbagai kelompok pendapatan bersekolah di kelas satu sekolah dasar, anak dari kelompok pendapatan termiskin cenderung menurun partisipasinya setelah mencapai kelas enam.

3. Kualitas sekolah di Indonesia masih rendah dan cenderung memburuk.
Selama ini ekspansi sekolah tidak menghasilkan lulusan dengan pengetahuan dan keahlian yang dibutuhkan untuk membangun masyarakat yang kokoh dan ekonomi yang kompetitif di masa depan. Bukti ini ditunjukkan dengan rendahnya kemampuan murid tingkat 8 (SMP kelas 2) dibandingkan dengan negara tetangga di asia


4. Persiapan dan kehadiran tenaga pengajar yang masih kurang.
Berbeda dengan kebanyakan negara, Indonesia memperbolehkan semua lulusan institusi pendidikan keguruan menjadi tenaga pengajar tanpa perlu melewati ujian dalam hal kesiapan untuk memberikan ilmu pengetahuan dan keahlian mereka pada kondisi sekolah yang beragam. Pada waktu yang sama terdapat kesulitan untuk memberhentikan tenaga pengajar yang tidak mampu mengajar. Lebih jauh, berdasarkan survei yang dilakukan untuk Laporan Pembangunan Dunia 2004, 20 persen tenaga pengajar Indonesia tidak masuk sekolah pada saat pengecekan di sekolah-sekolah yang terpilih secara random. Ini berarti 20 persen dari dana yang digunakan untuk membiayai tenaga pengajar tidak memberikan manfaat secara langsung kepada murid karena ternyata tenaga pengajar tersebut tidak berada di kelas.




5. Pemeliharaan sekolah-sekolah tidak dilakukan secara berkala
Berdasarkan data survei sekolah dari Departemen Pendidikan Nasional, satu dari enam sekolah di Jawa Tengah berada dalam kondisi yang buruk, sementara itu sedikitnya satu dari dua sekolah di Nusa Tenggara Timur juga berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Murid-murid berada di ruang kelas tanpa peralatan belajar yang memadai, seperti buku pelajaran, papan tulis, alat tulis, dan tenaga pengajar yang menguasai materi pelajaran sesuai kurikulum.

KESIMPULAN :
Demikianlah dapat kita simpulkan bahwasanya konstelasi mutu sekolah di Indonesia memang masih ditataran bawah apabila dibanding dengan negara negara lain di dunia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar